Tampilkan postingan dengan label Ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngaji. Tampilkan semua postingan

Sedikit Dari HambaKu Yang Pandai Bersyukur

Sabtu, 24 April 2010

Beberapa saat aku terpekur memandang kedua bola mataku dalam cermin, ia berkedip, bersinar, melihat wajahku dimana ia berada, tiba-tiba nuraniku berkata, "berapa banyak orang selainmu yang memiliki mata namun ia tidak bisa menikmati keberadaannya, atau bahkan mata itu tak berada ditempatnya ..................."

Suatu ketika aku membaca buku dengan diiringi suara qasaid kesukaanku, begitu menikmatinya dengan khusyu',lalu nuraniku berbisik lirih," kedua telinga yang kau miliki tidak semata untuk kau ambil kemanfaatannya lalu kau lupa kepadaNya yang memberinya........".

Nuraniku berkata lagi kali ini bahasanya lebih tegas " kerap manusia lupa bersyukur apabila berada dalam kenikmatan, khususnya kenikmatan yang selalu menyertainya dari dia bangun tidur hingga tertidur lagi, nafasnya, penglihatannya, pendengarannya, lisannya, penciumannya, akalnya, perasaannya, anggota tubuhnya...........dia baru akan tersentak jika Tuhan mengambil darinya sewaktu-waktu.......dia lupa peringatan Tuhan bahwa sesiapapun yang tidak pandai bersyukur maka dia akan mendapat siksa yang pedih....................lebih parah lagi kenikmatan itu ia gunakan untuk menentang Tuhannya...........".

Ya Rabbi....ya Maliki.....mata yang Kau anugrahkan ini sering kupergunakan untuk melihat sesuatu yang mungkin tidak Kau ridhai, atau memandang saudaraku dengan pandangan meremehkan,.......namun masih Kau beri kesempatan untuk memandang ukiran-ukiran kalamMu dalam al-Quran......

lisanku yang sering berkata kotor, menyakiti hati hambaMu, masih Engkau beri kesempatan menyebut namaMu yang suci, membaca ayat-ayatMu,dan meminta padaMu dalam do'a......
tangan ini yang berlumur dosa dan jarang disyukuri keberadaannya masih kau izinkan tuk menengadah padaMu dalam ratapan doa......

hatiku yang kotor, mengingat selainMu lebih banyak daripada mengingatMu, masih Kau beri kesempatan untuk bermunajat padaMu, berbelas kasih, dan merasakan cinta.......
Rabbi..........jadikanlah kami diantara hambaMu yang pandai bersyukur......

Read more...

RUQYAH Adalah Tahayul, Benarkah ????

Kamis, 25 Maret 2010


Seorang pria kaya dan terhormat mengundang beberapa tamu penting pada sebuah jamuan makan malam. tamu-tamu tersebut termasuk seorang syekh sufi yang terkenal dengan kemampuannya menyembuhkan, dan juga seorang menteri kesehatan, yakni seorang dokter yang memperoleh pendidikannya di Prancis. setelah makan malam, putri sang tuan rumah tiba-tiba merasa pusing dan harus dibaringkan di atas tempat tidur. Tuan rumah meminta kepada sang syekh berdoa untuk sang gadis. sang syekh akhirnya mendekati sang gadis dan mengucapkan beberapa doa untuk memohon kesembuhan.


Hal ini membuat kesal sang menteri kesehatan, yang kemudian menggerutu bahwa tahayul semacam ini harus disingkirkan," sekarang ini.... " katanya " kita memiliki suntikan vitamin, obat-obatan modern, dan cara ilmiah lainnya untuk menyembuhkan orang. omong kosong yang ketinggalan zaman seperti ini akan menghambat kemajuan kita.

Sang syekh menoleh kepada sang menteri dan berkata: " aku tidak mengerti bahwa mereka memakaikan seragam menteri kepada seekor keledai pada masa sekarang ini ! bagaimana mungkin pria bodoh dan tidak peka semacam ini dapat menjadi seorang dokter, terlebih lagi seorang menteri ?" sang menteri menjadi kalap, wajahnya merah padam. Ia begitu marah hingga tidak sangup berkata apa-apa.

Dengan nada suara yang lembut dan sopan, sang syekh segera berkata, " tuan menteri, maafkan saya. saya mengucapkan kata hinaan tersebut hanya untuk menjelaskan sesuatu. lihatlah bagaimana wajah anda menjadi merah, pembuluh darah anda menjadi membesar, jantung anda berdebar-debar, dan laju adrenalin anda menjadi meningkat. semua itu hanya disebabkan oleh beberapa kata, jika ucapan duniawi dapat menyebabkan perubahan fisik semacam itu, maka mungkin saja kalimat suci dari kitab Tuhan dapat membantu membawa kesembuhan.

Read more...

Cerita Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Pada Puterinya

Rabu, 24 Maret 2010


Setelah Salat Maghrib, Habib Ali ra memanggil puteri beliau,Khodijah. Tak berapa lama Khodijah datang dan duduk di hadapan ayahnya.Kemudian, sambil berbaring, Habib Ali bercerita kepada Khodijah:Wahai Khodijah, suatu hari ayahku mengirim sepucuk surat kepadaku dari Mekah, di dalamnya beliau menulis: Pergilah ke Mekah, kau tak kuizinkan tinggal di Hadhramaut.Aku segera memberitahu ibuku.“Kita tidak bisa menentang kehendak ayahmu,” kata ibuku.

Sebenarnya ibuku tidak sanggup berpisah denganku, aku pun merasa berat untuk berpisah dengannya. Jika teringat perjalanan yang harus kulakukan ini, kami menangis.Jam berganti hari, hari berganti minggu, dan waktu keberangkatanku semakin dekat. Pada saat keberangkatan, ibuku berpesan kepada Ahmad Ali Makarim.“Tolong perhatikanlah Ali, ia belum pernah melakukan perjalanan jauh.” “Marhabâ,” jawabnya. Kami kemudian berangkat meninggalkan Seiwun menuju Mekah.

Di tengah perjalanan kami singgah di Syihr. Tidak seorang pun yang mengenal ayahmu. Setiap hari, aku makan siang dan malam hanya berlaukkan sepotong ikan yang kubeli dengan uang satu umsut. Dari Syihr, aku pergi ke Jeddah kemudian ke Mekah, ke tempat ayahku. Beliau sangat senang melihat kedatanganku.“Kau tak boleh kembali ke Hadhramaut selamanya,” kata ayahku.

Ayah tidak mengizinkan aku ke ribath (pesantren). Aku juga tidak diizinkan untuk bertemu dengan siapa pun yang berasal dari Hadhramaut. Jika aku mendapat surat dari ibuku, ayah selalu merobeknya. Dua setengah tahun aku tinggal bersama ayahku, selama itu pula aku selalu teringat kepada ibuku. Rasanya aku ingin lari dari rumah ayahku. Ayahku memperoleh berbagai surat dari Hadhramaut: dari Abdullah bin Segaf Maulakhela, Ja ’far bin Muhsin dan Ahmad bin Abdullah bin Husin bin Tohir yang bermaksud hendak meminang adikku Aminah. Setiap kali surat itu datang beliau membakarnya. Suatu hari ayahku memanggil Alwi Assegaf.“Aku nikahkan engkau dengan puteriku Aminah. Rayakanlah pernikahanmu di Hadhramaut, kemudian bawalah isterimu kemari. ” “Baik…, tapi carikan aku seseorang yang dapat menemaniku. Biarkan Ali pergi bersamaku, ” kata Alwi Assegaf.

Aku sesungguhnya tidak memiliki harapan lagi untuk kembali ke Hadhramaut sampai suatu hari ayah memanggilku. “Wahai Ali, pergilah ke Hadhramaut bersama Alwi Assegaf. Rayakanlah perkawinannya dengan Aminah, kemudian biarkan ia membawa istrinya ke Mekah. ” “Basysyarokallô hu bil khoir, Semoga Allah memberi ayah kebaikan, ” jawabku. Beliau lalu memberiku 20 Qursy dan Alwi Assegaf 50 Qursy. Setelah itu beliau memerintahkan kami untuk berangkat. Kami segera meninggalkan kota Mekah. Setelah beberapa hari sampailah kami di Syuhuh. Ibuku tidak tahu tentang rencana kedatanganku ini, tapi Aminah bermimpi dan bercerita kepada ibuku, ‘Wahai Ibu, aku bermimpi bertemu kakakku Ali. Aku melihat seorang Badui mendatangiku. Ketika kutanya,‘ Siapakah kau?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah utusan Habib Ali. Beliau sekarang sudah sampai di Syuhuh, dan akan segera
sampai kemari. ’ Aminah mendapat mimpi yang benar.

Belum selesai ia bercerita, seorang Badui tiba-tiba mengetuk pintu. “Siapa?” tanya adikku. “Aku adalah utusan Habib Ali. Beliau sekarang sudah sampai di Syuhuh, dan nanti malam akan tiba di tempat ini. ”Mendengar berita ini, ibuku sangat gembira. Ketika aku masuk kota Seiwun, semua penduduk keluar menyambut kedatanganku. Aku segera menemui ibuku, beliau sangat gembira. Setelah masyarakat kembali ke rumah masing-masing ibuku bertanya, “Apa yang kau bawa?”“Aku tidak membawa apa-apa selain uang 20 Qursy,” jawabku. “Jangan khawatir, lihat,rumah ini penuh dengan gandum, beras dan korma, ” kata ibuku.

“Ayah mengirim Alwi Assegaf bersamaku. Beliau telah menikahkannya dengan Aminah. Beliau berpesan agar setelah pesta perkawinan, Alwi diizinkan memboyong Aminah ke Mekah. ”“Akulah yang membesarkan Aminah. Dan aku sesungguhnya tidak ingin berpisah dengannya, tapi aku tidak mau menentang kehendak ayahmu, ” ucap ibuku.

Aku kemudian merayakan perkawinan Alwi Assegaf dengan Aminah. Setelah perkawinan, Alwi tinggal di Seiwun selama dua atau tiga bulan, lalu ia kembali ke Mekah bersama Aminah. Dua bulan setelah kepergian Aminah, ibu berkata kepadaku, “Aku ingin kau segera menikah.” “Wahai ibu, aku tidak memiliki persiapan untuk menikah,” jawabku. “Jangan khawatir, segalanya akan menjadi mudah.” Ibuku kemudian menyarankan agar aku menikah dengan ibu Abdullah. Aku pun kemudian segera melamarnya. Semula ayahnya menolak lamaranku, masyarakat pun kemudian mencela calon mertuaku, “Bagaimana kau ini…, kau telah menolak lamaran seorang habib yang alim dan terhormat. Dia pernah belajar di Mekah. ”

Akhirnya calon mertuaku berubah pikiran. “Maafkan aku! Lupakanlah apa yang telah kulakukan kepadamu. Sekarang selamat datang, aku terima lamaranmu. ” Aku dan ibuku kemudian segera
berangkat ke Qosam. Di sana aku menikah dengan ibu Abdullah. Pernikahan kami berlangsung sangat sederhana. Penduduk Qosam adalah orang-orang yang cinta kebajikan. Setiap tamu undangan memberi kami dua mud gandum. Kami memotong seekor kambing untuk jamuan makan di malam pernikahan. Namun, pada saat itu Allah mentakdirkan seorang warga Inat meninggal dunia, sehingga sebagian besar undangan melayat ke Inat. Kelebihan makanan: dua piring Haris, kami berikan kepada seorang terhormat di Qosam. Keesokan harinya, kami tidak lagi memiliki sisa makanan untuk makan siang. Ketika kami sedang duduk membuat kopi, tiba-tiba Ba Hannan datang membawa makanan di mangkok. “Ini Haris untuk makan siang kalian,” katanya. Kami pun lalu memakannya.

Setelah tinggal di Qosam selama empat bulan, aku kemudian kembali ke Seiwun. Tak lama setelah itu ibuku berkata, “Aku ingin kau menunaikan ibadah haji dengan cara menghajikan seseorang. ” Aku lalu menghajikan Ahmad Sabaya atas biaya keluarganya. Aku berkunjung ke rumah ayahku sebelum menunaikan ibadah haji. Dan setelah urusan haji selesai, aku meminta izin dari ayahku untuk
kembali ke Hadhramaut. Menjelang bulan haji tahun berikutnya, ibuku berkata, “ Tunaikanlah ibadah haji sekali lagi tahun ini.” Aku kemudian mengabarkan keinginan ibuku ini kepada temanku Hasan bin Ahmad Alaydrus. Ia memberiku 80 Qursy. “Semua pengeluaran, transportasi dan urusanmu dalam perjalanan kutanggung ” kata Hasan bin Ahmad Alaydrus.

Aku kemudian berangkat bersama Hasan bin Ahmad dan Said bin Khalifah. Di tengah perjalanan kami singgah di Syihr. Di sana kami berjumpa dengan Habib Abubakar bin Abdullah Alatas. Ketika pertama kali bertemu Habib Abubakar jantungku hampir saja copot, kulihat beliau diliputi cahaya.“Lelaki ini malaikat atau manusia!” kataku dalam hati. Setiap kali ada yang terlintas di hatiku, Habib Abubakar mengetahui, kemudian menjelaskannya. Aku sangat senang dan gemas dengan Habib Abubakar. Rasanya ingin aku menelan beliau. Aku tak ingat pada keluargaku atau yang lain.

Malam hari aku tidak dapat tidur, khawatir jika suatu saat nanti aku harus berpisah dengannya. Kemudian aku bertanya di mana Habib Abubakar akan menunaikan salat Subuh. Mereka mengatakan bahwa beliau akan salat Subuh di Mesjid Amr. Sebelum fajar, kami telah berada di Mesjid Amr. Tak lama kemudian Habib Abubakar datang, dan kami pun lalu salat Subuh berjamaah dengan beliau.Tiga belas hari kami tinggal di Syihr bersama beliau. Selama itu aku membacakan kepadanya kitab Ar- Rasyafât dan beliau menerangkan dan melimpahkan ilmunya kepada kami. Beliau sering melihat aku, tapi setiap kali aku memandangnya, beliau segeramemalingkan pandangannya dariku. Aku menjadi semakin suka dan senang kepada beliau. Habib Abubakar juga memberikan perhatian kepada Hasan bin Ahmad dan yang lain. Aku berkata kepada Hasan bin Ahmad, “ Katakanlah kepada Habib Abubakar bahwa aku adalah anak Muhammad bin Husein. ” Beberapa yang hadir juga berkata kepada Habib Abubakar, “ Dia adalah anak Muhammad bin Husein.” “‘Ajîb (Oh, ya)?” jawab beliau.

Setiap kali para hadirin mengenalkan aku, Habib Abubakar berkata: ‘Ajîb… (Oh, Ya…?!). Namun beliau akhirnya berkata kepadaku, “Wahai anakku, camkanlah bahwa fath-mu terletak pada kitab Ar-Rasyafât. ” Aku pun berkata kepada beliau, “Katanya fath-ku di tanganmu.” Aku akhirnya dapat mengkhatamkan kitab Ar-Rasyafât di bawahbimbingan beliau. Setelah itu Habib Abubakar pergi ke Mukalla dan kami pun mengikuti beliau. Di Mukalla, beliau tinggal di rumah Abdurrahman Bahwal. Hasan bin Ahmad dan rombongannyan meminta ijazah. Beliau memberi kami semua ijazah. Kemudian beliau menganjurkan kami untuk menziarahi Nabi saw. Beliau berkata, “Kalian akan memperoleh sesuatu dari Nabi saw. ” Hasan bin Ahmad beserta rombongannya kemudian melanjutkanperjalanan, begitu pula aku. Sesungguhnya, aku tidak ingin sedetikpun berpisah dari Habib Abubakar. Kami akhirnya sampai di Jeddah. Dari Jeddah kami ke Mekah. Di Mekah, aku tinggal di rumah ayahku. Setelah beberapa hari di Mekah, rombongan kami pun berangkat ke Madinah. Ditengah perjalanan, kami singgah di Jeddah.

Di kota ini kami bertemu dengan sekelompok Badui yang saleh. Ketika salat, mereka membaca surat-surat awal juz 30 hingga surat Ad-Dhuha. Suara ratib mereka terdengar sepanjang malam. Kami dan rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah. Suara kokok ayam dan penduduk Madinah menyambut kedatangan kami. Dari jauh aku melihat kubah hijau tempat Nabi saw dimakamkan. Pemandu ziarah (muzawwir) telah siap menunggu kami. Ia kemudian memandu kami ziarah ke kubur Al- Habib Muhammad saw dan menuntun kami semua untuk mengucapkan salam. Aku kemudian mengucapkan salam: Salam sejahtera bagimu, duhai Rasulullah Salam sejahtera bagimu, duhai kekasih Allah Aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah

Pemandu ziarah akhirnya ikut berziarah bersama kami. Karena cahaya dan hudhûr-nya ziarah hampir saja jantungku berhenti berdetak. Pemandu ziarah itu ikut bersamaku ke bâbul malâ-ikah (pintu malaikat). Di sana aku menghadirkan Jibril dan Mikail. Tidak ada seorang pun yang mampu (yaqdir) berada di bâbul malâ-ikah di tengah malam. Kemudian aku mengucapkan salam kepada Sayidina Abubakar, kemudian kepada Sayidina Umar bin Khottôb. Setelah itu aku menziarahi Hababah Fatimah. Ketika duduk di depan makamnya, aku merasa sangat bahagia: “Ya Hababah, kami adalah anakmu.” Setelah itu aku pergi. Malam hari itu aku sama sekali tidak tidur.

Setiap hari aku mengkhatamkan Ad-Dalâil sebanyak tujuh kali. Pada malam hari, bersama Muhammad Al- Yamani, aku mengkhatamkan Ad- Dalâil sebanyak tujuh kali di Haram. Setelah itu kami membaca maulid atau Hamaziyah. Pada hari kesepuluh di siang hari, Hasan bin Ahmad Alaydrus tiba-tiba menemuiku. “Nabi saw memerintahkan aku untuk menemuimu.” “Aku tidak pantas menerima kemuliaan ini.” “Kau pantas.” (Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus kemudian bercerita): Suatu hari, aku keluar menuju Al- Haram seorang diri. Dalam hati aku berkata, “Aku ingin menghadap Nabi saw, semoga dari beliau muncul karomah untukku. ” Sesampainya di sana aku duduk di hadapan jendela kubur. Tiba-tiba dari kubur Nabi saw, muncul cahaya menjulang ke langit. Cahaya itu kemudian menjelma seorang manusia, ia mengucapkan salam kepadaku, “Assalâmu ‘alaika, ya Hasan.” “Wa ‘alaikas salâm,” jawabku, “Sesungguhnya engkau ini siapa?” “Aku adalah kekasihmu Muhammad saw,” kata beliau dengan menunjukkan rasa sukanya kepadaku, “ Wahai Hasan.” “Labbaik.” “Apakah kau ingin ziarahmu ini diterima?” “Ya.” “Apakah kau ingin semua hajatmu dipenuhi?” “Ya.” “Jika kau ingin ziarahmu diterima dan semua hajatmu dipenuhi, temuilah Ali bin Muhammad Al-Habsyi, mintalah ijazah darinya, dan ikatlah tali persaudaraan dengannya. ” “Marhabâ,” jawabku. “Aku tidak pantas, tapi tidak mungkin aku menolak perintah kekasihku saw, ” kataku kepada Hasan. Aku kemudian memberinya ijazah dan mengikat tali persaudaraan dengannya.

Hasan bin Ahmad lalu pergi meninggalkanku. Tak lamam kemudian, Syeikh ‘Athiyyah datang menemuiku dan berkata, “Tadi aku bertemu dengan kekasihku saw dan beliau berkata kepadaku, ‘Temuilahm Ali bin Muhammad Al-Habsyi, katakan kepadanya: Jika Tuhanmu telah memenuhi semua keinginanmu, maka doakanlah aku. ” “Insyâ Allôh, jika Tuhanku memenuhi semua keinginanku, aku akan mendoakanmu, ” jawabku. Aku lalu bangkit menuju makam Nabi saw. Dengan erat kupegang jendela kubur yang terbuat dari besi itu, “ Ya Habib Muhammad, engkau telah memberi semuanya, padahal aku adalah anakmu …, keturunanmu. .. Sejelek-jeleknya, maksimal aku adalah seorang yang berdosa, bagaimana mungkin engkau tidak memperhatikan aku ?” Tiba-tiba jendela kubur bergetar dan terbuka. “Ya Habib, aku bertobat, aku masih ingin bertemu dengan ibuku,” kataku sambil bergegas keluar. Pada kesempatan lain, ketika aku menghadap Nabi saw seorang diri, aku melihat seorang laki-laki dari Maroko sedang menghadap ke jendela dan memanggil Al-Habib saw dan mengucapkan beberapa bait syair.

Tanpa kusadari Hasyim bin Syeikh Al- Habsyi telah berdiri memegang jendela dengan erat. “Kau masuk dari mana? Semua pintu telah terkunci!” tanyaku kepadanya. Karena Hasyim adalah temanku, maka ia berterus terang kepadaku, “Jika mereka telah menutup semua pintu, aku masuk lewat jalan ghaib. ” Ia lalu berulang kali membaca ayat berikut: “Wahai Al-Azîz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang- barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan (takaran) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, karena sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah. ” (QS Yusuf, 12:88)

Tiba-tiba Hasyim tersungkur dan Nabi saw mengulurkan tangannya kepada Hasyim. Hasyim kemudian menciuminya. Aku pun segera bersujud dan masih bisa menyentuh tangan Rasulullah saw. Tiga hari kemudian aku berziarah ke kubur Sayidina Hamzah bersama Syeikh Muhammad Al- ‘Azb. Selepas ziarah Syeikh Muhammad Al-‘Azb bertemu Sayidina Hamzah. “Aku bertemu Sayidina Hamzah dan beliau berkata, ‘Aku telah meminta izin kepada Nabi saw untuk menjam kalian, ’ katanya. “Sungguh kesempatan yang sangat baik, siapa yang butuh sesuatu, maka utarakanlah. Perhatikanlah, kita ini adalah orang-orang yang membutuhkan, ” kataku. Suatu hari aku duduk bersama Hasan bin Ahmad. “Bagaimana jika engkau bukakan diwan Habib Abdullah Al-Haddad secara acak ?” katanya. Aku lalu membukanya secara acak dan yang terbuka adalah bait syair berikut: Dan Ibrahim menghancurkan patung- patung kaumnya dan menyisakan patung yang terbesar agar mereka malu “Tafsirkanlah bait ini untukku dan tulislah di bawahnya,” kata Hasan. “Habib Abdullah Al-Haddad menunjukkan bahwa keluarga Alaydrus memiliki kegemaran memimpin.

Allah telah membersihkanmu dari kegemaran itu. Engkau adalah seorang Muhammadiy (berperilaku dengan akhlak Rasulullah SAW)” jawabku. “Coba bukakan sekali lagi, Nabi saw mencintai kita atau tidak?” pintanya. Dan ternyata yang terbuka bait berikut: Duhai kekasih yang cantik Tahukah engkau aku menderita dan merana “Coba bukakan sekali lagi, kita akan berkunjung ke Madinah lagi atau tidak ?” Ternyata bait syair yang tertulis adalah: Semoga yang dirundung rindu ini dapat mengunjungimu kembali ‘tuk mencium tanah dan atsarnya “Sekarang aku akan membukanya untuk diriku sendiri,” kataku. Dan ternyata yang terbuka adalah bait berikut: Arak keyakinan minuman kehormatan bagi kami Minum dan mabuklah dengan anggur terbaik ini Itulah minuman para pemimpin kami Dan sesatlah jalan orang yang suka menyalahi “Aku akan membuka sekali lagi, apakah kita dapat kembali ke Madinah lagi ?” Dan ternyata yang terbuka bait berikut: Semoga yang dirundung rindu ini dapat mengunjungimu kembali ‘tuk mencium tanah dan atsarnya “Aku ingin sesuatu yang benar dan nyata. Yang kita lakukan selama ini hanyalah mencari alamat-alamat baik saja, ” kata Hasan,

kemudian ia pergi. Sepeninggalnya aku tertidur sejenak, tiba-tiba tampak seorang lelaki berdiri di depan pintu. Cahayanya menjulang ke langit. “Siapakah engkau?” tanyaku. “Aku adalah kekasihmu Muhammad saw. Bukankah engkau belum lama berselang membuka diwan Abdullah Al-Haddad ?” tanya beliau. “Benar,” jawabku. “Yang kau baca benar semua,” kata Nabi saw. (Q:I:210) Habib Umar bin Muhammad Maulakhela, Jawâhirul Anfâs Fî Mâ Yurdhî Rabban Nâs, I, Kumpulan Kalam Habib Ali. (Kode:Q) Ditulis oleh abahaura

Read more...

Empat hal Dilupakan Manusia

al_Imam Ja'far as_Shodiq ra berkata :

Aku heran dengan orang yang diuji dengan empat hal,tetapi dia melupakan empat hal yang lain.PERTAMA, orang yang diuji dengan rasa suntuk( sumpek), mengapa dia tidak mengucapkan :



لاَ إله إلا أنت سُبْحَانك إني كنت من الظالمين

Padahal, ( setelah nabi Yunus as mengucapkannya dari dalam perut ikan di dalam kegelapan samudra) Allah berfirman :

فاستجبنا له ونجينه من الغم وكذلك ننجي المؤمنين

KEDUA, seseorang yang merasa takut kepada sesuatu mengapa dia tidak mengucapkan :

حسبنا الله ونعم الوكيل

Padahal, ( bagi orang-orang yang ketakutan dan mengucapkan kalimat di atas )Allah ta’ala menyatakan :

فانقلبوا بنعمة من الله وفضل لم يمسسهم سوء ( ال عمران 174 :

KETIGA, seseorang yang ditipu, mengapa ia tidak mengucapkan :

وَأُفَوِّضُ أَمْرِيْ إلى الله إنّ الله بَصِيْرٌ بالعِبَادِ

Padahal,( ketika seorang mukmin di masa nabi-nabi terdahulu mengucapkannya) Allah Ta’ala mewahyukan :

فَوَقاه الله سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوْا
.....
KEEMPAT, seseorang yang menginginkan sesuatu mengapa ia tidak mengucapkan :

مَا شَاء الله لا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلا بِالله

Padahal, Allah mewahyukan :

فَعَسَى رَبِّيْ أَنْ يُؤْتِيَنِي خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ

Read more...

Blog Archive

STATISTIK

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP